Selasa, 05 Juli 2011

Strategi Pemasaran Produk Agribisnis Gondorukem Di KBM Industri Non Kayu

I.            PENDAHULUAN
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita.
Salah satu sumber daya alam di bidang agribisnis adalah sumber daya hutan yang termasuk dalam kelompok sumber daya alam yang bisa diperbaharui dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi.
Hutan memiliki fungsi produksi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia baik yang berasal dari kayu dan non kayu. Produksi hutan yang berupa non kayu tersebut salah satunya berasal dari Pinus merkusii Jungh et de Vriese yang pada akhir daur hidupnya dapat disadap untuk menghasilkan getah yang akan diolah pada suatu industri hulu yaitu pabrik pengolahan getah pinus dan menghasilkan produk industri non kayu berupa gondorukem.

Produk gondorukem digunakan sebagai bahan baku yang penting bagi industri batik, kulit, sabun cuci, cat, isolator, kosmetik, kertas, vernis, ramuan semir sepatu, pelarut bahan organik, dan bahan pembuatan kamper sintesis.

Salah satu Badan Usaha Milik Negara yang melakukan pengolahan getah pinus adalah Perum Perhutani. Perum Perhutani memiliki pabrik-pabrik pengolah getah pinus baik di Jawa barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Produk gondorukem yang dihasilkan oleh Perum Perhutani  ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Negara tujuan ekspor  untuk produk gondorukem adalah ke Bangladesh, Korea, Jepang, Karaci, Litagong, Cina, Taiwan, Pakistan, Perancis, Rotherdam, Polandia, Hanburg dan Laspysia.

Penghasilan Perum Perhutani Unit I dari hasil ekspor gondorukem pada tahun 2008 mencapai lebih dari Rp 200 Milyar bahkan untuk seluruh Perhutani penghasilan ekspor dari produk gondoruken mencapai lebih dari Rp 500 Milyar. Hal ini menunjukkan bahwa produk gondorukem sebagai hasil hutan bukan kayu produk yang dapat dijadikan tumpuan bagi Perum Perhutani.

Namun saat ini, dalam menjalankan kegiatannya, terdapat berbagai permasalahan antara lain dalam bidang produksi maupun bidang pemasaran  yang masih belum optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan analisis strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats (SWOT) agar diperoleh alternatif dan strategi pengembangan gondorukem baik secara produksi maupun pemasarannya.

Berikut ini disajikan pendekatan swot terhadap sumberdaya alam agribisnis gondorukem di KBM Industri Non Kayu Jawa Tengah.


II.         GONDORUKEM
Gondorukem merupakan produk olahan dari getah pohon pinus (famili Pinaceae) yang saat ini merupakan komoditi andalan non migas yang bukan berasal dari kayu atau rotan (Susilowati, 2001 dalam Prawira, 2008). Jenis pohon pinus yang sering disadap adalah sebagai berikut :
-      Amerika : Pinus palustris dan Pinus caribaeae
-      Perancis : Pinus pinaster dan Pinus maritime
-      Spanyol : Pinus pinaster
-      Austria   : Pinus laricio dan Pinus sylvestris
-      Portugis : Pinus pinaster dan Pinus pinea
-      Rusia               : Pinus sylvestris
-      Indonesia         : Pinus merkusii

Menurut Badan Standardisasi Nasional (Anonim, 2001), gondorukem (Colophony) adalah padatan hasil penyulingan getah pohon pinus (Pinus merkusii). Nama lain gondorukem, antara lain gum rosin, pine resin, resin, siongka, kucing, dan sebagainya. Daerah penghasilnya tersebar luas di daerah pegunungan di Indonesia terutama di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali (Suryamiharja dan Buharman, 1986 dalam Prawira. 2001).

Gondorukem yang dihasilkan di Indonesia diklasifikasikan menjadi beberapa mutu yang ditentukan oleh Badan Standardisasi Nasional. Klasifikasi mutu dalam standar penggolongan gondorukem harus memenuhi syarat mutu dan syarat khusus yang telah ditetapkan. Mutu gondorukem yang dihasilkan dari pengolahan getah pinus dapat diklasifikasikan menurut warna, titik lunak, kadar kotoran, kadar abu, dan komponen menguap.

Klasifikasi Mutu gondorukem menurut Badan Standardisasi Nasional adalah :
Tabel 1  Klasifikasi mutu gondorukem
No.
Klasifikasi mutu
Tanda mutu
Dokumen
Kemasan
1.
Utama  (U)
X
X
2.
Pertama  (P)
WW
WW
3.
Kedua  (D)
WG
WG
4.
Ketiga  (T)
N
N

Berdasarkan tabel 1 tersebut dapat diketahui mutu gondorukem dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam oleh Badan Standardisasi Nasional, yaitu mutu utama (X), mutu pertama (WW), mutu kedua (WG), dan mutu ketiga (N). Masing-masing mutu tersebut mempunyai persyaratan umum dan persyaratan khusus seperti tersaji selengkapnya pada Tabel 2 dan tabel 3.
Tabel 2  Persyaratan umum gondorukem
No.
Jenis uji
Persyaratan
1.
Bilangan asam
160 – 190
2.
Bilangan penyabunan
170 – 220
3.
Bilangan iod
5 - 25

Tabel 3  Persyaratan khusus mutu gondorukem
No
Jenis uji
Satuan
Persyaratan mutu
U
P
D
T
1.
Warna metode Lovibond Comparator

X
WW
WG
N
2.
Titik lunak
°C
> 78
> 78
> 76
> 74
3.
Kadar kotoran
%
< 0,02
< 0,05
< 0,07
< 0,10
4.
Kadar abu
%
< 0,01
< 0,04
< 0,05
< 0,08
5.
Komponen menguap
%
< 2
< 2
< 2,5
< 3

Mutu gondorukem ditentukan dari hasil pengujian warna gondorukem. Warna gondorukem ialah warna yang ditetapkan dibandingkan dengan warna standar Lovibond yang terdiri atas 15 warna (XC, XB, XA, X, WW, WG, N, M, K, I, H, G, F, E, dan D) (Badan Standardisasi Nasional,2001).
Kelas yang paling gelap yaitu kelas D digunakan untuk pembuatan minyak rosin, juga digunakan dalam industri linoleum dan vernis gelap. Kelas G dan K digunakan sebagai bahan “sizing” dalam industri sabun, bergantung pada kualitas sabun yang akan dibuat. Untuk kualitas sabun yang baik bahkan digunakan kelas yang berwarna lebih pucat. Kelas yang berwarna lebih pucat dari K terutama W – C dan
  W – W digunakan untuk pembuatan vernis yang berwarna pucat. Penggunaan gondorukem lainnya, antara lain sebagai bahan pembuatan “sealing wax”, bahan peledak dan sebagai bahan pengganti resin lainnya, untuk pelapis alat-alat yang dipegang tangan, sebagai bahan penggosok senar alat musik gesek, sebagai bahan pencampur dalam proses penyolderan, dalam pembuatan cat, tinta cetak, semen kertas, bahan pelitur kayu, plastik, kembang api, bahan waterproof untuk karton, dan sebagainya (Suryamiharja dan Buharman, 1986 dalam Prawira, 2008).

III.      PEMASARAN GONDORUKEM
a.   Pemasaran Gondorukem
Negara yang menjadi sasaran ekspor gondorukem antara lain India, Amerika Serikat, Perancis, Kamerun, dan Belanda (Hadi, 2006). Pasar produk gondorukem dunia sebagian besar diserap oleh Aksonabel dari Belanda, Eropa, AS, dan India yang antara lain untuk bahan baku pembuatan tinta, cat, industri ban mobil, lem, dan vernis. Indonesia baru bias memenuhi kebutuhan gondorukem dunia kurang dari 10 persen.
Permintaan pasar internasional terhadap gondorukem Indonesia naik sejak akhir 2005. Hal ini disebabkan karena Pemerintah China menahan penjualan produk gondorukem keluar dari negaranya. Langkah China ini dilakukan untuk memenuhi pasokan gondorukem untuk industri dalam negeri sendiri yang dari tahun ke tahun terus meningkat.
Tingginya permintaan gondorukem ini juga dikarenakan keunggulan kualitas gondorukem Indonesia yang berasal dari pohon Pinus jenis Merkusi tersebut. Contohnya, keasamannya yang rendah dan kemampuannya menahan suhu tinggi, tingkat kelengketannya dan aromanya sangat disukai konsumen. Bidang usaha Perum Perhutani yang dimulai sejak tahun 1974 ini juga mampu menggairahkan perekonomian masyarakat dengan melibatkan mereka mulai dari pengadaan alat sadap (alat bacok dan batok kelapa), tenaga penyadap, angkutan, hingga kemasan/kaleng.
Pasar dunia saat ini cenderung mengalami peningkatan kebutuhan gondorukem, sehingga berapa pun produksi dunia langsung terserap oleh pasar. Permintaan yang tinggi tersebut mengakibatkan harga komoditas ini di pasar naik. Perum Perhutani menaikkan harga gondorukem mulai Januari 2006 ini dari 475 dollar AS per ton menjadi 750 dollar AS per ton. Kenaikan ini untuk mengantisipasi tingginya permintaan gondorukem di pasar dalam negeri maupun luar negeri belakangan ini.
Kenaikan ini sebetulnya karena kebutuhan pasar saja. Perum Perhutani berusaha menangkap peluang pasar yang ada. Perum Perhutani memiliki cukup dana untuk menanam kayu penghasil gondorukem dengan harga yang naik, sehingga meningkatkanjumlah produksi (Handadari, 2006 dalam Prawira, 2008).
Tahun 2006, Perum Perhutani berupaya meningkatkan produksi getah pinus sampai 20 persen dan produk gondorukem menjadi sekitar 70.000 ton. Peningkatan produksi itu, antara lain dengan menggunakan stimulan getah, ekspansi kerja sama ke luar Jawa dan penyadapan hutan pinus rakyat. Selain itu, peningkatan produksi dilakukan dengan memperpanjang daur tebang pinus dan riset bibit bocor getah bersama Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.
China kini merupakan produsen gondorukem terbesar di dunia dengan volume produksi mencapai 640.000 ton per tahun dan mengekspor sekitar 50 persen produksinya, sehingga mampu bertindak sebagai penentu harga gondorukem di pasar internasional. Perum Perhutani sebagai follower (pengikut) tidak dapat berbuat banyak karena harga jual ditentukan oleh China selaku penguasa pasar. Kendati demikian, Perum Perhutani terus mengamati celah-celah pasar yang ada agar harga jual produk dapat tetap terjaga bahkan meningkat. Direksi Perum Perhutani dalam berbagai pertemuan selalu menekankan harga gondorukem produksi BUMN di lingkungan kehutanan ini ditetapkan berdasarkan kekuatan pasok dan kebutuhan, biaya produksi, internal PHTI, dan misi perusahaan sebagai perusahaan sosial (Handadari, 2006 dalam Prawira, 2008).


b.   Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran adalah suatau proses manajemen untuk menganalisis kesempatan pasar untuk memilih posisi, program, pengendalian pemasaran yang menciptakan serta mendukung bisnis-bisnis yang aktif untuk mencapai tujuan serta sasaran pemasaran.
Kegiatan pemasaran tidak hanya untuk kepentingan jangka pendek saja, tetapi juga untuk jangka panjang. Hal ini disebabkan karena kebutuhan dan keinginan terus berkembang baik kualitasya maupun kuantitasnya, sehingga usaha untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen harus selalu ditingkatkan.
Untuk mencapai hal tersebut, maka perusahaan perlu mengadakan orientasi pada konsumen dengan menentukan kebutuhan konsumen, menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran penjualan, menentukan produk dan program pemasaran, mengadakan penelitian serta menentukan strategi yang paling sesuai agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen. Dalam strategi pemasaran suatu perusahaan untuk menanggapi setiap perubahan kondisi pasar dan faktor biaya tergantung pada analisis terhadap Faktor lingkungan, analisis terhadap faktor lingkungan seperti pertumbuhan populasi dan peraturan pemerintah sangat penting untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkannya pada bisnis perusahaan. Selain itu, faktor-faktor seperti perkembangan teknologi, tingkat inflasi, dan gaya hidup juga tidak boleh diabaikan. Hal-hal tersebut merupakan faktor lingkungan yang harus dipertimbangkan sesuai dengan produk dan pasaran perusahaan. Faktor pasar, setiap perusahaan perlu selalu memperhatikan dan mempertimbangkan faktor-faktor seperti ukuran pasar, tingkat pertumbuhan, tahap perkembangan, trend dalam sistem distribusi, pola perilaku pembeli, permintaan musiman, segmen pasar yang ada saat ini atau yang dapat dikembangkan dan peluang peluang yang belum terpenuhi. Persaingan, dalam kaitannya dengan persaingan setiap perusahaan perlu memahami siapa pesaingnya, bagaimana posisi produk atau pasar pesaing tersebut, apa strategi mereka, kekuatan dan kelemahan pesaing, struktur biaya pesaing, dan kapasitas produksi para pesaing. Analisa kemampuan Internal, setiap perusahaan perlu menilai kekuatan dan kelemahannya dibandingkan para pesaingnya. Penilaian tersebut dapat didasarkan pada faktor-faktor seperti teknologi, sumber daya finansial, kemampuan pemanufakturan, kekuatan pemasaran, dan basis pelanggan yang dimiliki. Perilaku konsumen, perlu dipantau dan dianalisis karena hal ini sangat bermanfaat bagi pengembangan produk, desain produk, penetapan harga, pemilihan saluran distribusi, dan penentuan strategi promosi. Analisis perilaku konsumen dapat dilakukan dengan penelitian (riset pasar), baik melalui observasi maupun metode survey. Analis ekonomi, perusahaan dapat memberikan pengaruh setiap peluang pemasaran terhadap kemungkinan mendapatkan laba. Analisis ekonomi terdiri atas analisis terhadap komitmen yang diperlukan, analisis BEP (Break Even Point), penilaian resiko atau laba, dan analisis faktor ekonomi pesaing.




IV.        PERMASALAHAN
Permasalahan dalam produksi dan pemasaran gondorukem yang dijual oleh KBM Industri Non  Kayu  adalah :
1.  Adanya pesaing yangyang ketat terhadap gondorukem yang dipasarkan oleh KBM Industri Non Kayu.
2.      Belum adanya perencanan dalam menentukan strategi  pemasaran.
3.      Belum terjalinnya komunikasi yang baik antara pimpinan dengan karyawan sehingga dalam pengambilan keputusan perusahaan selalu kurang maksimal.
4.      Belum adanya diversifikasi produk gondorukem

V.           ANALISIS SWOT DAN ALTERNATIF STRATEGI
Strategi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Penentuan alternatif strategi dalam pengembangan strategi pemasaran gondorukem dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal. Alat analisis yang cocok untuk merumuskan strategi dari berbagai faktor yang diidentifikasi tersebut adalah analisis SWOT. Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), dan secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
5.1.      Analisis SWOT
a.       Kekuatan
1)   Bahan baku pembuatan gondorukem berupa getah dihasilkan sendiri oleh perusahaan
2)   Produk gondorukem yang dihasilkan spesifik
3)   Pabrik gondorukem  yang dimiliki sudah melaksanakan implementasi ISO 9000 : 2008
4)   Terdapat jaminan terhadap kualitas gondorukem yang dihasilkan
5)   Mempunyai agen dan non agen gondorukem yang berpengalaman
6)   Perusahaan memiliki jaringan distribusi yang kuat.
b.        Kelemahan
1)   Kapasitas industri pabrik gondorukem belum terpenuhi secara maksimal
2)   Potensi SDM yang lemah
3)   Terlalu fokus pada produk tertentu
4)   R & D industri gondorukem belum optimal
5)   Terdapat birokrasi dalam pemasaran gondorukem
6)   KBM Industri Non Kayu belum sepenuhnya mandiri
7)   Sistem pemasaran yang belum sesuai
8)   Analisa pasar belum optimal
c.          Peluang
1)     Permintaan produk gondorukem yang dihasilkan sangat tinggi
2)     Terdapat kepercayaan pelanggan terhadap produk gondorukem yang dihasilkan
3)     Teknologi informasi tersedia
4)     Mempunyai keunggulan dalam bahan baku
5)     Terdapat potensi getah di luar Jawa
d.         Ancaman
1)   Masuknya pesaing asing ke Indonesia yang dapat melemahkan posisi perusahaan.
2)   Produk derivat sudah ada yang memproduksi
3)   Bahan baku tergantung musim
5.2.      ALTERNATIF STRATEGI  DAN KEBIJAKAN
a.   Strategi
        Tabel  4. Matrik SWOT dan Strategi

Kekuatan (S)
Kelemahan (W)
                Unsur Internal






Unsur Eksternal

1)        Bahan baku pembuatan gondorukem berupa getah dihasilkan sendiri oleh perusahaan
2)        Produk gondorukem yang dihasilkan spesifik
3)        Pabrik gondorukem  yang dimiliki sudah melaksanakan implementasi ISO 9000 : 2008
4)        Terdapat jaminan terhadap kualitas gondorukem yang dihasilkan
5)        Mempunyai agen dan non agen gondorukem yang berpengalaman
6)        Perusahaan memiliki jaringan distribusi yang kuat.

1)     Kapasitas industri pabrik gondorukem belum terpenuhi secara maksimal
2)     Potensi SDM yang lemah
3)     Terlalu fokus pada produk tertentu
4)     R & D industri gondorukem belum optimal
5)     Terdapat birokrasi dalam pemasaran gondorukem
6)     Sistem pemasaran yang belum sesuai
7)     Analisa pasar belum optimal

Peluang (O)
Strategi Peluang Kekuatan (SO)
Strategi Peluang Kelemahan (WO)
1)      Permintaan produk gondorukem yang dihasilkan sangat tinggi
2)      Terdapat kepercayaan pelanggan terhadap produk gondorukem yang dihasilkan
3)      Teknologi informasi tersedia
4)      Mempunyai keunggulan dalam bahan baku
5)      Terdapat potensi getah di luar Jawa
1)      Meningkatkan produktivitas
2)      Meningkatkan harga  produk
3)      Perluasan pangsa pasar
4)      Peningkatan efisiensi
5)      Memantapkan saluran agen/non agen dengan lebih menekankan pada agen yang memiliki kemampuan berkembang


1)      Optimalisasi kapasitas pabrik
2)      Memepertajam program penelitian dan pengembangan
3)      Menetapkan jalur distribusi  tetap sebagai jalur utama



Ancaman (T)
Strategi Ancaman Kekuatan(ST)
Strategi Ancaman Kelemahan (WT)
1)    Masuknya pesaing asing ke Indonesia yang dapat melemahkan posisi perusahaan.
2)    Produk derivat sudah ada yang memproduksi
3)    Bahan baku tergantung musim

1)Meningkatkan promosi produk
2)Diferensiasi produk
3)Pemanfataan sumber daya perusahaan yang ada
1)      Optimalisasi bahan baku
2)      Mengadakan penyesuaian imbalan jasa
3)      Diversifikasi produk



b.   Kebijakan
Kebijakan adalah batasan bagi organisasi atau perusahaan dan pejabatnya dalam pengambilan keputusan untk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Kebijakan dirumuskan secara fungsional, seperti di bawah ini :
1)     Pemasaran
Produk gondorukem  harus selalu tersedia sesuai dengan kontrak yang dilakukan dengan para pembeli. Harga gondorukem menjanjikan tingkat laba optimal dan  mendukung pertumbuhan masing-masing usaha.
2)     Produksi
Produksi gondorukem harus berpedoman pada rencana dan pelaksanaan proses harus mengikuti prosedur dan instruksi kerja yang dirumuskan dalam sistem ISO 9000 : 2008.
3)     Sumber daya Manusia
-    Pengembangan SDM selaras dengan budaya perusahaan
-    Penghargaan (reward) dan sangsi (punishment)  harus diterapkan secara konsekuen dan konsisten
4)     Sumber daya keuangan
-    Pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen keuangan yang sehat, rasional dan memperhatikan rasio-rasio keuangan yang baik.
-    Investasi jangka panjang harus didasarkan pada studi kelayakan yang menguntungkan.



VI.        PENUTUP
Dari analisis SWOt yang dilakukan, alternatif strategi pemasaran yang dipilih adalah bauran pemasaran baik produknya, harga (price), distribusi dan promosi.
Dengan melakukan strategi pemasaran yang tepat, diharapkan penjualan gondorukem akan lebih meningkat dan memberikan keuntungan yang lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Pabrik Gondorukem dan Terpentin (http://www.kbmink1.perumperhutani.com/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=34). Diakses 20 januari 2010
Gumbira, E.S. 1999. Manajemen Pasca Panen Produk Agribisnis dan Agroindustri untuk Ekspor. (http://www.akademik.unsri.ac.id/ download/journal/files/baijournal/Endang_Gumbira_Said_manajemen_pasca.pdf.) diakses 3 Februari 2011
Rangkuti, Freddy. 2009. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Saragih. 2010. Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. P.T. Penerbit IPB Press. Bogor.
Teja. Muhammad A.S. 2008. Analisis industri dan pemilihan strategi untuk meningkatkan produksi gondorukem Perum Perhutani(http://elibrary.mb.ipb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=mbipb-12312421421421412-muhammadte-644&q=Hierarchy). Diakses 3 Februari 2011
READ MORE - Strategi Pemasaran Produk Agribisnis Gondorukem Di KBM Industri Non Kayu

Analisa Potensi Sumber Daya Alam Kayu Putih di Kesatuan Pengelolaan Minyak Kayu Putih Krai Kabupaten Grobogan

I.        PENDAHULUAN
Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
Salah satu sumber daya alam di bidang agribisnis adalah sumber daya tanaman kayu putih yang termasuk dalam kelompok sumber daya alam yang bisa diperbaharui dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi. Tanaman kayu putih  bisa bisa diolah menjadi minyak kayu putih.
Bila diolah menjadi minyak kayu putih, nilai tambah dari tanaman kayu putih menjadi semakin besar, apalagi kebutuhan kayu putih di Indonesia cukup menjanjikan, yaitu mencapai  1.500 pertahun,  padahal saat ini produksi minyak kayu putih Indonesia hanya 500 ton saja.
Salah satu daerah di Jawa Tengah yang mempunyai kebun kayu putih yang cukup luas dan menjadi penghasil minyak kayu putih terbesar di Jawa Tengah adalah Kesatuan Pengelolaan Minyak Kayu Putih (KPMKP) Krai yang berada di Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. Wilayah seluas + 3.167,6  ha merupakan kebun kayu putih yang sebagai penyedia bahan baku bagi pabrik minyak kayu putih di KPMKP Krai.
Dengan nilai kemanfataannya yang tinggi, maka potensi tanaman kayu putih sebagai bahan baku industri minyak kayu putih  harus selalu dikaji, sehingga bila terjadi penurunan potensi, dapat diketahui penyebab sekaligus mencari solusi agar potensinya tetap dapat dipertahankan.
Untuk melihat potensi minyak kayu putih yang dapat dihasilkan, maka perlu dilakukan kajian potensi daun kayu putih yang bisa dihasilkan setiap tahun.
Berikut diberikan gambaran potensi daun kayu putih yang dihasilkan selama lima tahun terakhir di KPMKP Krai Kecamatan Torh Kabupaten Grobogan.

II.      DESKRIPSI KPMKP KRAI
2.1.       Sejarah Pengelolaan KPMKP Krai
Sebelum ditanami  tanaman kayu putih, wilayah hutan di Kesatuan Pengelolaan Kayu Putih Krai di Bagian Hutan GUndih pada umumnya masih terdapat tanah kosong yang cukup luas dan bertumbuhan alang-alang juga tanaman jati bertumbuhan kurang. Hal tersebut sudah dirasakan sejak tahun 1948 dimana sering terjadi adanya teresan-teresan liar  untuk dapat ditanami tanaman palawija di bawahnya, dan banyaknya pencurian kayu, penggembalaan dan kebakaran. Usaha-usaha penanaman dengan jenis jati dan rimba selalu mengalami kegagalan, akibat dari gangguan keamanan hutan dan semakin kritisnya tanah sehingga kurang berfungsi lagi sebagai pengatur tata air bagi kehidupan penduduk di sekitar hutan.

Dengan adanya problema sosial, ekonomi, dan politik sedemikian rupa sehingga penghutanan kembali selalu gagal, maka dipilihlah percobaan penanaman kayu putih pada tahun 1964, karena kayu putih  merupakan jenis pioneer dan tidak membutuhkan syarat tempat tumbuh yang terlalu tinggi. Penanaman kayu putih  ini diharapkan dapat mengembalikan kesuburan tanah, dan member lapangan pekerjaan bagi penduduk di sekitarnya di samping memberikan pendapatan bagi negara.

Percobaan penanaman kayu putih pada tahun 1964 ternyata berhasil dengan memuaskan, dan selanjutnya tiap tahun tanaman tersebut semakin diperluas. Dengan semakin luasnya tanaman kayu putih dan telah mencapai masa panen daun, terasa sangat dibutuhkan adanya suatu pabrik pengolahan daun menjadi minyak kayu putih, dan pada tanggal 3 November 1969, telah berdiri pabrik minyak kayu putih di desa Bandungharjo kecamatan Toroh kabupaten Grobogan.

Dengan semakin luasnya areal tanaman kayu putih dan pemasaran minyak kayu putih semakin membaik, juga penyerapan tenaga kerja semakin besar, maka perlu dibentuk suatu kelas perusahaan  tersendiri, dan akhirnya berdasarkan surat keputusan /IV A/5/Perenc.Jateng, tanggal 1 Juli 1972 dan nomor : 4043/IV A/5/Perenc.Jateng, tanggal 20 September 1972, telah terbentuk Kelas Perusahaan Kayu Putih di KPMKP Krai yang ditetapkan di Bagian Hutan Gundih.

2.2.       Letak dan Luas Wilayah
Secara geografis, Kesatuan Pengelolaan Minyak Kayu Putih (KPMKP) Krai Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan terletak pada koordinat 4°2’ - 4°3’ bujur timur dan 7°12’ - 7°17’ lintang selatan.
Luas kawasan hutan Kesatuan Pengelolaan Minyak Kayu Putih Krai sebesar 3.167,6 hektar, dengan pembagian wilayah pengelolaan terdiri dari 5 resort, yaitu :
·            RPH Jurug                     : 759,0 ha
·            RPH Karangploso           : 613,2 ha
·            RPH Krai                       : 780,3 ha
·            RPH Ngroto                  : 611,6 ha
·            RPH Kayen                             : 403,5 ha
Batas wilayah KPMKP Krai sbb. :
§  Sebelah utara   
:
Jalan DPU Godong-Purwodadi sampai titik iris sungai Lusi, sungai ini mudik sampai titik iris dengan batas Karesidenan Semarang-Pati
§  Sebelah timur
:
Dari Ds. Tunggak ke selatan lewat Dk. Tempel sampai titik batas hutan B.1021-B.1032, alur FQ melalui jalan DK Parang sampai B.1100 kemudian ke barat lewat jalan Ds. Genengsari menuju alur KD pada B.1078 menyambung ke alur E, EN ke selatan sampai titik iris sungai Dk. Kuncen pada B.757, sepanjang sungai Jambangan bersambung dengan B.2716-B.2736 lewat alur M

§  Sebelah selatan
:
Dari pertemuan Ds. Sanggrah-Ds. Geyer bertemu dengan jalan DPU Purwodadi-Solo bersambung dengan jalan rel KA jurusan Solo-Semarang sampai titik iris sebelah barat kali Serang
§  Sebelah barat
:
Titik iris rel KA jurusan Solo-Semarang dengan kali Serang menuju ke utara berbatasan dengan wilayah KPH Telawa sampai titik iris dengan jalan DPU Godong-Purwodadi

2.3.    Wilayah Administrasi  Pemerintahan
Wilayah hutan KPMKP Krai termasuk pada wilayah administratif Desa Bandung harjo, Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan.
2.4.      Keadaan Lapangan
a.     Topografi
KPMKP Krai terletak pada ketinggian 32 -79 meter di atas permukaan laut, dan wilayahnya berada di daerah aliran sungai Serang dan sungai Lusi serta sebagian merupakan deretan pegunungan kapur utara dan selatan. Konfigurasi lapangan pada umumnya berupa datar, miring, berombak, dan curam yang mana tidak terlalu berpengaruh negatif terhadap hidrologi dan sarana jalan angkutan.
b.     Tanah dan Geologi
Jenis tanah di wilayah KPMKP Krai pada umumnya terdiri dari jenis litosol mediteran dan rensina yang berasal dari bahan induknya berupa campuran batu kapur, dan sebagian jenis regosol kelabu dan grumusol kelabu tua yang bahan induknya berupa batu kapur dan napal. Adapun struktur tanah adalah berat dan sulit untuk peresapan air.

c.      Iklim dan Curah Hujan
Wilayah hutan KPMKP Krai terletak pada suatu daerah dengan musim hujan dan musim kemarau yang jelas. Pada beberapa tempat di sekitar wilayah hutan terdapat stasiun pengamatan curah hujan, sehingga dari data stasiun hujan tersebut dapat diketahui adanya bulan basah, bulan lembab dan bulan kering. Dari hasil perhitungan Berdasarkan perbandingan bulan basah dan bulan kering menurut Schmidt dan Fergusson dengan mempergunakan rumus nilai Q (Rata-rata jumlah bulan kering / Rata rata jumlah bulan basah x 100%), maka wilayah KPMKP Krai mempunyai tipe iklim D  (Q =60,0 - 100,0 %).
d.       Prasarana Jalan
Prasarana jalan merupakan bagian yang sangat penting untuk kepentingan angkutan produksi daun kayu putih, minyak dan juga untuk keperluan pengawasan dan pemeriksaan pekerjaan serta pengamanan wilayah. Untuk pengangkutan daun kayu putih dari hutan ke pabrik diperlukan jalan yang bisa digunakan sepanjang musim. Selama ini di samping menggunakan jalan umum juga alur-alur yang dapat berfungsi sebagai jalan angkutan. Untuk pengangkutan produksi minyak kayu putih ke konsumen, di samping menggunakan jalan milik Perhutani, juga menggunakan jalan mobil umum yang membentang antara kota Purwodadi – Gundih – Solo. Pada umumnya jaringan jalan angkutan sudah cukup memadai, tinggal perawatan / pemeliharaan rutin.


III.   SUMBER DAYA TANAMAN KAYU PUTIH
a.     Potensi daun Kayu putih di KPMKP Krai
Seperti disampaikan diatas, potensi luas wilayah tanaman kayu putih KPMKP Krai  mencapai 3.167,6 ha. Dalam pemungutan hasil setiap tahunnya dipergunakan hanya sejumlah + 1.500 ha untuk setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena cara pengambilan daun kayu putih yang dilakukan secara blok, sehingga dalam satu tahun tidak semua blok dipetik daunnya. Selain itu waktu petik daun kayu putih yang baik untuk diolah menjadi daun kayu putih adalah daun dari tanaman yang berumur 9 bulan setalah pemangkasan daun.
Tanaman kayu putih di KPMKP Krai dapat tumbuh dengan baik. Namun karena pengambilan/pemanenan secara terus menerus menyebabkan tanaman kayu putih memerlukan pemeliharaan untuk mengembalikan kesuburan tanahnya dan produktivitas daun kayu putih yang dipanen tetap dapat terjaga.
Pengelolaan kebun kayu putih melibatkan masyarakat sekitar hutan dengan sistem tumpangsari tanaman pangan.
Produksi daun kayu putih yang dihasilkan KPMKP Krai dari tahun 2004 – tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut :





Tabel 1. Produksi daunkayu putih yang dihasilkan oleh PMKP Krai tahun 2005 - 2009
Tahun
Produksi Daun Kayu
(Kg)
Keterangan
2005
9.011.600

2006
7.792.082

2007
7.506.948

2008
6.548.648

2009
7.398.548

Sumber : Data KPMKP Krai
Berdasarkan data di atas,  terlihat bahwa produksi daun kayu putih dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Dibandingkan dengan tahun 2005, maka pada tahun 2006, produksi daun kayu putih mengalami penurunan sebesar  + 16%. Tahun 2007 kembali mengalami  penurunan sebesar 3,7 % dibandingkan dengan tahun 2006. Demikian pula untuk tahun 2008, terjadi penurunan sebesar 15% dibandingkan dengan tahun 2007. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 13%,  dimana produksi daun kayu putih di KPMKP Krai pada tahun 2009 menjadi 7.398.548 kg dibandingkan pada tahun 2008 hanya sebesar 6.548.648 Kg saja.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya penurunan potensi produksi daun kayu putih adalah :
§   Banyaknya tanaman kayu putih yang sudah perlu diremajakan (atau sudah tua). Banyak tanaman yang sudah > 30 tahun yang merupakan daur ekonomis dari tanaman kayu putih. Hal ini menyebabkan produktivitas tanaman menjadi rendah.
§  Kurangnya pemeliharaan tanaman kayu putih. Tanaman yang diambil daunnya  memerlukan pengembalian unsur hara ke dalam tanah. Oleh karena itu memerlukan pemupukan baik organik maupun anorganik.
§  Adanya sistem tumpangsari di lahan kayu putih yang kurang pengawasan, sehingga kuantitas daun menjadi berkurang karena dirusak (dirempeli) oleh petani yang melaksanakan tumpangsari.

Kenyataan ini sungguh memprihatinkan sebab hal itu dapat menjadi indikator  telah terjadi penurunan potensi pada kebun kayu putih di KPMKP Krai.

Oleh karena itu, pada potensi tanaman kayu putih  yang ada harus dilakukan pemeliharaan dengan benar. Untuk tanaman yang tua sebaiknya dilakukan peremajaan (reboisasi), dilakukan pemeliharaan secara intensifikasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan sistem tumpangsasi dengan tanaman pangan di lokasi kebun kayu putih.

b.     Potensi Produksi Minyak Kayu Putih di KPMKP Krai
Tanaman kayu putih merupakan sumberdaya penyedia bahan baku bagi industri minyak kayu putih. Dengan diolahnya daun kayu putih menjadi minyak kayu putih, maka nilai kemanfaatannya menjadi semakin tinggi.
Dari potensi tanaman kayu putih yan menghasilkan daun kayu putih setiap tahun di KPMKP Krai, maka  potensi minyak kayu putih yang dapat dihasilkan setiap tahun di KPMKP krai seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Produksi  Minyak kayu putih yang dihasilkan oleh KPMKP Krai  tahun 2005 - 2009
Tahun
Produksi Daun Kayu
(Kg)
Keterangan
2005
71.134

2006
64.589

2007
55.450

2008
53.670

2009
56.062

Sumber data : KPMKP Krai
Seperti juga potensi tanaman kayu putih yang mengalami penurunan setiap tahun, maka produksi minyak kayu putih yang dihasilkan juga mengalami penurunan. Namun persentase penurunan tidak selalu sama dengan persentase penurunan pada kayu putih. Hal ini disebabkan karena terdapat pengaruh pencapaian rendemen minyak kayu putih berbeda-beda setiap tahun.. Walaupun terdapat penurunan sebesar 16% pada produksi daun pada tahun 2006, namun pada produksi minyak kayu putih hanya terjadi penurunan sebesar 10% saja. Hal ini disebabkan pencapaian rendemen pada tahun 2006 sebesar 0,83%. Lebih besar dari tahun 2005 yang hanya mencapai 0,79% saja. Demikian juga dengan tahun-tahun selanjutnya, terjadi perbedaan persentase karena adanya perbedaan pencapaian rendemen.
Hal-hal yang mempengaruhi penurunan produksi minyak kayu putih adalah :
·         Kuantitas daun kayu putih yang  sedikit
·         Rendahnya kualitas daun kayu putih sebagai bahan baku
·         Pencapaian rendemen minyak kayu putih rendah
·         Rusaknya atau terganggunya kelacaran pada instalasi permesinan pabrik
·         Sumber daya manusia yang rendah.
Untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas, maka yang harus dilakukan adalah :
§   Meningkatkan jumlah daun kayu putih yang dimasak setiap tahunnya sesuai dengan kapasitas terpasang
§   Meningkatkan kualitas daunkayu putih yang dimasak/diolah
§   Selalu mlaksanakan maintenance terhadap permesinan pabrik sehingga mesin tidak rusak ketika digunakan.
§   Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

IV.     KESIMPULAN
Tanaman kayu putih sebagai sumber daya alam mempunyai potensi untuk dikembangkan karena  sifatnya yang  bisa diperbaharui juga mempunyai nilai kemanfaatan yang besar bagi manusia.
Nilai kemanfaatan yang  besar ini juga semakin tinggi ketika tanaman kayu putih diolah menjadi minyak kayu putih yang mempunyai peluang pasar yang cukup tinggi.
Namun dalam pemanfaatan potensi tanaman kayu putih dan minyak kayu putih, perlu dilakukan intensifikasi, pemeliharaan dan  pengawasan agar potensi sumberdaya yang ada dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta dapat dimanfaatkan secara lebih baik.




PUSTAKA
Ahirra, Anne. 2010. Mengenal Agribisnis dan Perencanaannya. http://www.anneahira.com/artikel-umum/agribisnis.htm. diakses  2 Februari 2011
Komunitas Perpustakaan Online Indonesia. 2006. Pengertian Sumber Daya dan Pembagian Jenisnya. http://organisasi.org/pengertian_sumber_daya_alam_dan_pembagian_macam_jenisnya_biologi. diakses 2 Februari 2011
Saragih. 2010. Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. P.T. Penerbit IPB Press. Bogor.
Suhargo. 2008. Rencana Strategis Usaha Lain KBM Industri Non Kayu. Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Semarang
READ MORE - Analisa Potensi Sumber Daya Alam Kayu Putih di Kesatuan Pengelolaan Minyak Kayu Putih Krai Kabupaten Grobogan