Selasa, 31 Mei 2011

BUSSINESS PLAN : PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS SORGUM

 
I.      Ringkasan Eksekutif
Krisis pangan dan energi yang terjadi akibat meroketnya harga minyak bumi dapat dilihat sebagai peluang bisnis bagi Indonesia sebagai negara tropis basah dengan lahan kosong yang masih luas seperti Indonesia. Apalagi dengan diterapkan ACFTA (ASEAN – China Free Trade Agreement)  dimana negara-negara anggota ASEAN dan China terbebas dari pajak atas 7.000 katagori komoditi dan memberikan status bebas bea bagi semua komoditi tersebut dalam perdagangan bilateral pada tahun 2010, maka tercipta peluang bisnis dengan kawasan yang mempunyai 1,7 Milyar Konsumen.

Perum Perhutani yang menguasai lahan hutan produksi cukup luas di Pulau Jawa dapat berkontribusi dengan mengembangkan sistem budidaya tumpangsari (Multi-cropping) antara tanaman sorghum (Sorgum bicolor) dengan tanaman pokok di Perum Perhutani (misal tanaman kayu putih, murbei dan sejenisnya).  Sorgum merupakan tanaman multi guna dimana seluruh bagian tanaman dapat digunakan untuk pangan, pakan dan bioetanol.

Dengan jarak tanam kayu putih 6 x 1 meter, maka satu hektar dapat ditanami dengan 96.000 batang tanaman sorgum yang dapat dipanen dua kali dalam setahun dengan diselingi tanaman palawija atau padi pada musim hujan. Dalam dua kali  panen pertahun, dari 1 hektar dapat  diperoleh  10 ton biji sorghum, 5 ton komponen pakan ternak dan  3.250 liter bioetanol pertahun. 10 ton biji sorghum dapat menghasilkan 5 ton tepung sorghum.

Dari perhitungan potensi, pendapatan dari sorghum setiap hektar  dapat mencapai Rp 10 juta per tahun baik melalui budidaya sorgum manis, pengolahan biji menjadi tepung dan komponen pakan dan produksi bioetanol dibandingkan dengan produksi minyak kayu putih yang besarnya di bawah Rp 5 juta/ha/tahun.
Oleh karena itu diusulkan budidaya sorghum, pengolahan biji sorgum menjadi tepung dan produksi bioetanol dengan skala 15 ha/tahun untuk menghasilkan tepung 75 ton per tahun dan bioetanol 24.375 liter per tahun yang berpotensi memberikan keuntungan lebih dari Rp  10 juta pertahun sebagai tambahan bagi Perum Perhutani  selain dari produksi minyak kayu putih.

II.    Pendahuluan
2.1.       Masalah Global sebagai Peluang
Menipisnya minyak bumi menyebabkan harga minyak cenderung naik dan fluktuatif serta diikuti oleh kenaikan harga berbagai bahan dan barang yang sangat bergantung pada BBM. Kenaikan BBM di atas US$ 100 per barel pada tahun 2008 telah menyebabkan krisi pangan di negara-negara yang bahan makanannya tergantung pada negara lain dalam supply pangannya (Hambali, dkk. 2008)

Indonesia dinilai tidak termasuk katagori negara rawan pangan, namun mengalami kemandekan dalam inovasi teknologi produksi pangan. Meskipun memiliki lahan kosong yang cukup luas, ketergantungan terhadap beras harus dikurangi karena laju konversi sawah menjadi pemukiman dan industri di Jawa tidak dapat diimbangi dengan pencetakan sawah di luar Jawa, baik karena keterbatasan kondisi dan kualitas lahan maupun ketersediaan sumberdaya manusia. Pemanasan global yang mengacaukan musim juga tidak menguntungkan bagi budidaya padi yang banyak memerlukan air (Sirappa. 2003).
Oleh karena itu diversifikasi pangan mutlak dilakukan dengan pilihan pada tanaman pangan yang dapat tumbuh di lahan-lahan kritis dan perubahan iklim akibat pemanasan global. Dengan mengacu pada kualitas beras sebagai makanan pokok, maka tanaman sorgum merupakan salah satu alternatif.

Terdapat beberapa varietas sorgum yang memiliki biji yang berkualitas pangan, batangnya mengandung gula yang tinggi sehingga dapat dikonversi menjadi bioetanol yaitu bahan bakar nabati yang dalam jangka waktu pendek-menengah harus disiapkan sebagai substitusi bensin (Hambali, dkk. 2008).

Jumlah lahan pertanian yang masih belum tergarap dan lahan kritis kering di Indonesia cukup untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju surpluspangan dan bahan bakar nabati. Dengan demikian, krisis global perlu dilihat sebagai peluang untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah-masalah global dan ACFTA perlu dilihat sebagai peluang pemasaran karena dengan adanya ACFTA maka tercipta kawasan dengan 1,7 Milyar konsumen baik pangan maupun bahan bakar (Liputan 6. 2009).

2.2.       Agroindustri berbasis sorgum
Banyak sumber pangan alternatif yang potensial dan dapat dikembangkan  untuk mendukung program diversifikasi dan ketahanan pangan bangsa Indonesia. Salah satu diantaranya adalah sorgum (sorgum bicolor). Menurut ICRISAT-FAO, sebagai pangan dunia sorgum berada di peringkat ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan barley (Sirappa, 2003).
Sebagai bahan pangan, biji sorghum biasanya dikonsumsi dalam bentuk roti, bubur, berondong dab keripik. Sebagai pakan ternak unggas, biji sorgum digunakan dalam campuran pakan lengkap. Sedangkan batang dan daun sorgum yang digunakan sebagai pakan ternak ruminansia sering diberikan dalam bentuk segar, hay, silase atau gasture. Selain itu, biji sorgum juga banyak digunakan sebagai bahan baku industri diantaranya bioetanol, bir, cat, lem, sirup, pati dan makan olahan (Isroi. 2008).

Terkait dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika dan India, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Secara tradisional, bioetanol telah diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu. Walaupun harga mollases tebu relatif lebih murah, namun bioetanol sorgum dapat berkompetisi mengingat beberapa kelebihan tanaman sorgum dibanding tebu antara lain :
·      Tanaman sorgum memiliki produksi biji dan biomasa yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu.
·      Adaptasi tanaman sorgum lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal.
·      Tanaman sorgum memilki sifat lebih tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi dan genangan air.
·      Sorgum memerlukan pupuk lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tebu
·      Laju pertumbuhan tanaman sorgum lebih cepat daripada tebu.
·      Menanam sorgum lebih mudah, kebutuhan benih hanya 4,5 – 5 Kg/ha dibanding tebu yang memerlukan 4.500 – 6.000 stek batang.
·      Umur panen sorgum lebih cepat yaitu hanya 4 bulan dinading tebu yang dipanen pada umur 7 bulan.
·      Sorgum dapat di ratoon  sehingga untuk sekali tanam dapat dipanen beberapa kali.

III.  Kepemilikan, Legalitas dan Profil Usaha,
Perum Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 30 tahun 2003 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani)

Saham Perum Perhutani sebagian besar sahamnya dimiliki oleh negara dan kekayaannya dipisahkan berdasarkan peraturan pemerintah.
Sebagai badan usaha milik negara, sifat usaha Perum Perhutani :
-     Membantu pemerintah dalam membangun public utilities,
-     Melaksanakan kebijakan strategis pemerintah
-     Tujuan melindungi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Perum Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara yang mengelola seluas 1,7 juta hektar areal hutan produksi di Jawa berpotensi untuk menjadi salah satu kontributor dalam usaha sorgum karena beberapa alasan:
-      Memiliki puluhan ribu areal tanaman perkebunan (khususnya yang dapat ditumpangsarikan dengan sorgum)
-      Memiliki lebih dari 200 ribu hektar lahan kritis yang dapat digunakan untuk budidaya sorgum ditumpangsarikan dengan jenis tanaman kayu yang sesuai
-      Berlokasi di Jawa dengan lahan yang relatif subur dan tersedia infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai.

IV.   Tujuan dan Misi
4.1.  Tujuan usaha
·      Menciptakan pengembangan usaha sekaligus bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
·      Menyediakan lapangan pekerjaan dan memberdayakan masyaralat sekitar
·      Peningkatan penghasilan
·      Peningkatan ketahanan pangan dan energi
4.2.  Misi usaha
·      Mengelola sumberdaya hutan berdasarkan karakteristik wilayah dan meningkatkan manfaat hasil hutan non kayu, agroforestri guna menghasilkan keuntungan untuk menjamin pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan dengan memberdayakan masyarakat sekitar melalui lembaga perekonomian masyarakat.

V.     Sistem Tanam dan Sistem Produksi
5.1.      Sistem Tanam
§  Sistem Tumpangsari Tanaman Sorgum dengan Tanaman Kayu Putih
Tumpangsari tanaman sorgum pada areal tanaman kayu putih dimungkinkan karena beberapa hal berikut  :
-    Kedua komoditas sama-sama tumbuh dengan baik di lahan kering
-    Kayu putih dipanen dengan cara memangkas secara periodik yang memungkinkan sinar matahari dapat menembus hampir seluruh permukaan areal sehingga memungkinkan sorgum tumbuh dengan baik

5.2.       Sistem Produksi
§  Sistem Kemitraan dengan masyarakat
Terdapat beberapa opsi antara lain :
-    Perkebunan, pabrik dan peternakan secara terintegrasi dikelola sepenuhnya oleh Perum Perhutani. Warga masyarakat di sekitarnya sebagai karyawan.
-    Perkebunan dan peternakan oleh petani, pabrik bioetanol dan tepung sorgum oleh Perum Perhutani.
-    Perkebunan, pabrik dan peternakanskala rumah tangga/kecil oleh petani atau kelompok tani. Perum Perhutani menjadi penampung produk antara serta mengembangkan industri pengolahan lanjut/hilir dan pemasaran.

VI.   Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut :
-     Setiap hektar tanaman sorgum dapat menghasilkan 10 ton biji dan 65 ton batang per 2 periode tanam biji dan ratoon
-     Rendemen bioetanol = 20 kg batang segar menjadi 1 liter bioetanol

6.1.  Biaya Investasi
-     Biaya Pembuatan mesin Bioetanol              = Rp   55.000.000,-
-     Biaya Pembuatan mesin penepungan = Rp   60.000.000,-
-     Jumlah                                                    = Rp 115.000.000,-

6.2.  Biaya Budidaya

6.3.       Biaya Penepungan

6.4.       Biaya Produksi Bioetanol
6.5.       Laba/Rugi


VII. Strategi Pemasaran
a.    Tepung yang dihasilkan dari sorgum dapat dicampur dengan terigu hingga 40% sebagai bahan pembuat kue,  roti, mie dll. Oleh karena itu untuk pemasaran tepung dilakukan kerjasama dengan perusahaan terigu atau pabrik pembuat roti, kue, dll. (P.T. Bogasari).
b.    Untuk Bioetanol dilakukan kerjasama dengan :
-      P.T. Pertamina sebagai alternatif energi
-      Asosiasi apotek sebagai bahan pembuatan etanol 70%
c.    Untuk pakan ternak dilakukan kerjasama dengan koperasi-koperasi peternak sapi di sekitar lokasi penanaman sorgum.

VIII.     Penutup
a.    Dari perhitungan potensi pendapatan, diperoleh hasil setiap hektar lahan mencapai Rp 40 juta/ha/tahun dengan keuntungan lebih dari Rp 10 juta/ha/tahun melalui budidaya sorgum manis, pengolahan tepung dan produksi bioetanol.
b.    Mengingat budidaya sorgum, pengolahan biji dan produksi bioetanol merupakan hal baru, untuk luas tanaman budidaya sorgum  dilakukan seluas 15 ha/tahun untuk menghasilkan tepung sebanyak 75 ton  dan bioetanol 24.375 liter per hari. (haris)

IX.   Daftar Pustaka

Hambali, E; S. Mujdalipah; A. Halomoan; A.W. Pattiwiri. R. Hendroko. 2008. Teknologi Bioenergi. Agromedia Pustaka. Jakarta
Isroi, 2008. Sorgum Manis (http://isroi.wordpress.com/2008/06/23/sorgum-manis/). Diakses 19 Februari 2010.
Liputan 6. 2009. ACFTA, Kado Pahit Awal Tahun  (http://berita.liputan6.com/mendalam/201001/258439/ACFTA.Kado.Pahit.di.Awal.Tahun) . Diakses 14 Februari 2010.

Sirappa, M.P. 2003. Prospek Pengembangan Sorgum di Indonesia Sebagai Komoditas Alternatif Untuk Pangan, Pakan dan Industri. Jurnal Penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Makasar.
Supriyanto; B. Purnomo. 2009. Pengembangan Agroindustri Bioetanol Berbasis  Sorgum Secara Terpadu dan Berkelanjutan. (http://www.solex-un.net/repository/id/ecdv/CR4-RR1-ind.pdf). Diakses 19 Februari 2010.

3 komentar:

  1. Selamat malam
    Terima kasih sebelumnya kepada pemilik blog.
    Saya rudi, ketua (presidium) asosiasi petani sorghum Cirebon. Alhamdulillah telah jatuh bangun sejak 2010 bertanam sorghum jenis hermada (varitas Jepang). Sorghum Hermada / Rumput Hermada ini memiliki kelebihan tersendiri, antara lain :
    Harga malai kering Rp. 8.000/kg (produksi 800-1200kg/Ha)
    Harga biji sorghum hermada Rp. 1.000/kg (produksi 1500-3000 kg/Ha)
    Harga nira batang sorghum Rp. 500/kg (produksi 400-1200 kg/Ha)
    Biaya modal budidaya hanya 4-5 juta/Ha pada tanam 1, tris 2 hingga tris 6 hanya Rp. 2-2,5 juta/Ha
    Khusus untuk warga Indonesia yang jarak kotanya sekitar 25-70km dari Wilayah Cirebon, jika mau bermitra, kami siap membantu dengan kontrak pembelian panen, notaris jika dibutuhkan kami siap. Pembayaran Cash & carry.
    Rudi, sorghum Cirebon 0819-4682-9775 / 0823-1963-4768

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malam pa rudi,apa kabar pa. Saya hartoyo ketua kelompok tani di bandung, sy ingin belajar dan bermitra dg pihak bapak bagaimana caranya

      Hormat kami
      Hartoyo- 08112000670

      Hapus
  2. Trimakasih Bapak Haris, atas inspirasinya sebagai masukan bagi saya dalam rangka membangun Kebun sorgum dan pabrik produk turunanya.
    Sukses...
    Salam,edyP palmfirda@gmail.com

    BalasHapus